Site announcements

Tim Peneliti Unhan gandeng LIPI gelar diskusi panel penelitian tentang Papua

by Administrator EDOM -

Bogor – Rektor Universitas Pertahanan Laksamana Madya TNI Dr. Amarulla Octavian S.T., M.Sc., DESD., secara resmi membuka diskusi panel penelitian tentang Papua, diskusi penelitian ini mengusung tema “Mewujudkan Perdamaian dan Menghilangkan Kesenjangan Sosial di Tanah Papua dalam memperkokoh Keutuhan Bangsa Indonesia”, yang berlangsung secara daring dari gedung auditorium lt-2 Kampus Bela Negara, Kawasan IPSC-Sentul. Rabu (12/8).

Acara diskusi panel ini menghadirkan narasumber dari berbagai instansi terdiri dari, Dr. Yan Dirk Wabiser (PD 1 FKIP Universitas Cenderawasih), Dr. Otto Syamsuddin Ishak (Unisyah Kuala), Drs. John Glube Gabze (Tokoh Masyarakat Papua), Emir Chairullah, Ph.D (Media Indonesia), Dr. Harry Seidadyo (Unika Atmajaya), John NR Gobai (Sekertaris Dewan Adat Papua), Hanna Hikoyabi, S.H (Sekda Pemkab Jayapura), yang dipandu oleh moderator Letkol Laut (KH) Dr. Martinus DAW, S.S., S.H., M.A.P.

Rektor Unhan dalam sambutannya mengatakan,  perjalanan sejarah bangsa Indonesia tidak lepas dari berbagai pengalaman konflik, keunikan konflik yang terjadi tidak menimbulkan disintegrasi bangsa namun hal ini makin memperkuat persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara, dan dalam mengatasinya dilaksanakan dengan pendekatan secara humanis dan kooperatif melalui pendekatan sosiologis dan antropologi.

Diskusi panel ini dalam kaitan penelitian yang dilaksanakan oleh Unhan dan LIPI untuk mengumpulkan fakta, pendapat, interpretasi serta penjelasan kritis untum mendapatkan rumusan solusi terbaik dalam mewujudkan perdamaiaan di selurih aspek kehidupan guna menjaga keutuhan NKRI.

Diskusi panel diawali dengan pemaparan Dr. Yan Dirk Wabiser (PD 1 FKIP Universitas Cenderawasih) dengan tema “Belajar dari Kemarin untuk memperkokoh Bangsa Indonesia”, dalam kesimpulan pemaparan menjelaskan, keutuhan bangsa akan tercipta bila hukum, Pancasila dan Bhineka tunggal Ika, UUD 1945 dipraktekan dalam kehidupan, menjaga jangan sampai terjadi kesenjangan sosial

pemapar sesi ke dua Dr. Otto Syamsuddin Ishak (Unisyah Kuala), dengan tema “Transformasi Konflik Papua”, melalui pemaparannya dijelaskan terjadinya konflik di papua terjadi sudah menahun berimplikasi pada pembangunan daerah dan otonomi khusus sebagai instrumen penyelesaian konflik belum bisa menyelesaikan konflik.

Sesi pemaparan ketiga oleh Drs. John Glube Gabze (Tokoh Masyarakat Papua),  menjelaskan perlu adanya kesepakatan secara nasional untuk mengenaralisir bahwa Papua bukan daerah konflik.

Emir Chairullah, Ph.D (Media Indonesia), dalam pemaparannya dengan topik ” Elite and the negotiaton melalui konsep padangan jurnalis yang dituangkan dalam bentuk akademisi.

Sesi pemapar ke lima Dr. Harry Seidadyo (Unika Atmajaya), dengan topik “Tanah Papua Menyiasati Kesenjangan” pada pemaparannya menjelaskan tentang perkembangan 12 tahun terakhir ini, dalam mengetaskan kedalaman kemiskian dipapua cenderung menurun,  ditinjau dari aspek geografis Papua tingkat kemiskinan masih terjadi dilokasi masyarakat yang bermukim di daerah ketinggian, faktor geografis ketinggian sebagai hambatan dalam membangun infrastruktur dan indeks pembangunan manusia, diakhir pemaparan nya disarankan untuk membangun Papua harus dapat menyentuh masyarakat yang tinggal di daerah geografis ketinggian,

Sesi pemapar ke enam oleh John NR Gobai (Sekertaris Dewan Adat Papua), dengan topik “Mengurai Sejarah dan menyelesaikan pelanggaran HAM di Papua demi mewujudkan perdamaian”, melalui pemaparannya dijelaskan mewujudkan perdamaian di papua dapat ditinjau dari dua aspek yaitu penyelesaian distorsi sejarah dan penyelesaian pelanggaran HAM

Diskusi panelis ini juga diwarnai dengan sesi tanya jawab dengan narasumber, beberapa lingkup tanya-jawab ini meliputi latarbelakang konflik lokal yang bersifat antar suku, pandangan konsepsi metedologi  penyelesaian konflik melalui instrumen Internasional, mengatasi kesenjangan sosial dan peningkatan ekonomi masyarakat di tanah Papua.

Kegiatan diskusi panel ini juga diikuti oleh seluruh pejabat eselon I, II, III, Dosen dan perwakilan tim gabungan peneliti dari Unhan dan LIPI terdiri dari Prof. Teddy Mantoro, Dr. Pratama Persada, Endah Sri Rejeki, S.T., MBA., CHRP, Dr. Cahyo Pamungkas, Dr. Adriana Elizabeth, Dr. Rosita Dewi, Fachri Aidulsyah SIP, serta pengamat Intelijen dan pakar komunikasi Dr. Susaningtyas N.H. Kertopati, M.Si,  (Anh)

Mengetahui : Kabag Humas Unhan


Fakultas Keamanan Nasional Unhan gelar Webinar mewujudkan semangat Bela Negara dalam penanggulanggan Bencana

by Administrator EDOM -

Bogor – Pusat Studi Manajemen Bencana (MB) Fakultas Keamanan Nasional (FKN) Unhan selenggarakan Webinar  dengan tema Utama “Semangat Bela Negara Dalam Penanggulangan Bencana Pandemi Covid-19”, yang dilaksanakan secara daring online dari Gedung Fakultas Kemanan Nasional Unhan, Kawasan IPSC-Sentul. Rabu (12/8).

Dalam Webinar ini mengundang narasumber yang sekaligus sebagai Guru Besar Unhan sebagai pembicara antara lain, Mayor Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Si, dan Prof. Dr. Ir. Sobar Sutisna, M.Surv. Sc.

Webinar dibuka langsung oleh Dekan FKN Laksamana Muda TNI Dr. Siswo Hadi Sumantri, S.T., M.MT, dalam sambutannya menyampaikan webinar dengan tema tersebut dipandang sangat penting untuk diangkat mengingat,  hingga saat ini pandemi covid-19 belum menunjukkan titik akhir, bahkan perkembangan Covid-19 di Indonesia cenderung meningkat sehingga sulit memprediksi kapan pandemi ini akan selesai.  Dampak dari covid-19 ini sangat luas, tidak hanya dampak kesehatan, melainkan juga menyangkut kebijakan politik dalam dan luar negeri, geopolitik, geoekonomi, pariwisata, sosial dan budaya  serta keamanan insani (Human Security), hingga lingkup keamanan nasional (National Security).   Sehingga melalui kegiatan webinar ini diharapkan akan memberikan  pemahaman kepada seluruh peserta FGD terkait aplikasi semangat bela negara dalam penanggulangan bencana covid-19.

Webinar ini diawali dengan pemaparan Mayor Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Si, dengan topik “Bela Negara Dalam Wujud Pengurangan Risiko Bencana Covid-19, Berbasis Dasawisma”, melalui pemaparannya diawali dengan scenario berbagai negara dibelahan dunia dalam upaya melawan Covid-19 seperti pencarian vaksin, Lockdown/PSBB, Herd Immunity, dengan tujuan wabah Covid-19 dapat melemah, dari berbagai upaya pandemi Covid-19 ini diharapkan tidak ada korban selain itu juga manusia dan ekonomi keduanya dapat diselamatkan.

Pademi Covid-19 saat ini telah mengancam lingkup keamanan nasional (National Security), tentunya perlu disikapi oleh seluruh warga negara Indonesia secara serius, salah satu upaya dapat dilakukan dengan semangat bela negara, tujuan dari bela negara meliputi mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara, melestarikan budaya, menjalankan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945, berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara, menjaga identitas dan integritas bangsa atau negara, dari tujuan bela negara melawan pademi covid-19 dapat dilakukan dengan Konsep Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas  (PRBBK), yang meliputi serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, melalui penyadaran, penguatan kapasitas menghadapi ancaman (Covid – 19), serta dilaksanakan secara aktif, partisipatif dan terorganisir.

Selain itu dapat juga PRBBK dengan metode CBDP (Community Base Disaster Preparedness) dengan tujuan mengurangi kerentanan masyarakat terhadap kondisi lingkungan, meningkatkan kapasitas masyarakat mengurangi risiko penyebaran Covid – 19 disekitar mereka, mengurangi kerugian dibidang ekonomi dan sosial.

Selain itu perlu dikembangkan konsep Dasawisma dalam konteks bela negara, dimana  Dasawisma dalam konteks Bela Negara adalah semangat dan kesadaran bergotongroyong masyarakat dalam lingkup 10 KK (Rumah Tangga) yang saling bertetangga, untuk ikut serta secara aktif melindungi keselamatan keluarga, dan membantu menyukseskan program pemerintah melawan/menangani Bencana Covid-19 di lingkungannya, Program Dasawisma ini meliputi membangun partisipasi masyarakat melawan Covid-19 melalui PHBS, Membentuk komunitas berbasis “online” secara aktif dilingkungan RT dengan menampilkan tokoh agama, masyarakat, pemuda, dan perempuan, Mendapat supervisi dari relawan BNPB, BPBD, serta pendanaannya, membuat program 10 rumah aman (Keluarga Tangguh) dan model : pelacakan, layanan diagnostik, pencegahan dan edukasi, promotif, pengobatan dan Bansos.

Sementara pada sesi pemapar ke dua oleh Prof. Dr. Ir. Sobar Sutisna, M.Surv. Sc., dengan topik pembahasan “Upaya Bela Negara Melalui IG Berbasis SIG dalam Penanggulangan Pandemi Covid-19” pemaparannya diawali dengan konsep dan definisi Bela Negara dan Keamanan Nasional (National Security),  IG berbasis SIG dan Pandemi Covid-19, melalui penjelasannya adanya Potensi Insecurity disebabkan oleh antara lain actions by other statesviolent non-state actors, dan the effects of disasters (seperti bencana pandemi, banjir, Gempa Bumi), yang berdampak pada Keamanan ekonomi, keamanan energi, keamanan fisik, keamanan lingkungan hidup, keamanan pangan, keamanan perbatasan, hingga keamanan cyber.

Peran SIG dalam penanggulangan Bencana alam mampu untuk mereduksi Insecurity melalui, (1) Peningkatan kemampuan logistik, tingkat pusat dan daerah, (2) Pendistibusian kebutuhan dan bantuan bagi korman bencana secara tepat, 3) Pelaporan yang terukur, 4) Tersedianya informasi secara lengkap dan aktual kepada semua pihak yang terkait baik nasional maupun internasional.

Melalui pengembangan informasi geospasial dapat membantu penanggulangan bencana pandemi Covid-19, SIG dalam penanganan Covid-19 dapat sebagaig alat bantu utk reduksi insecurity melalui pencegahan penyebaran dan penekanan laju korban Covid-19, kemudian sebagai alat bantu untuk pengambil kebijakan pemutusan rantai penyebaran Covid-19, selain itu ig dan sig sebagai alat bantu utk perumusan kebijakan yang akurat, penggunaan ig dan sig sebagai alat bantu koordinasi dan kendali satgas baik di pusat dan atau daerah, sebagai model alat saji spasial dari data status dan sebaran (kasus, recovers, kematian), serta data lembaga pelayanan Covid-19, daerah terdampak dan bantuan tepat sasaran, sebagai alat bantu monev pelaksanaan kebijakan dan layanan publik kesehatan yg tersedia dalam penanganan pandemic Covid-19 dan sebagai alat bantu pengambilan keputusan yg tepat utk penerapan zona merah, kuning dan hijau; serta utk menetapkan lokasi/daerah yg dapat menerapkan status new normal.

Selain menerima pemaparan para peserta Webinar juga berkesempatan melakukan tanya jawab dan diskusi dengan narasumber, terkait dampak global pademi Covid-19, dampak pademi yang berimplikasi pada Kemanan Nasional.(Anh)

Mengetahui : Kabag Humas Unhan


Indonesia Peace and Conflict Resolution Association (IPCRA) dan Ikatan Alumni Universitas Pertahanan Webinar “Totalitas Mewujudkan Cita-Cita Indonesia Maju”

by Administrator EDOM -

Bogor – Indonesia Peace and Conflict Resolution Association (IPCRA) dan Ikatan Alumni Universitas Pertahanan (Ikahan) melaksanakan webinar “A Piece of Peace from Indonesia to the World” dengan tema “Totalitas Mewujudkan Cita-Cita Indonesia Maju” diikuti sekitar 2.310 peserta dari 34 provinsi di Indonesia dan 35 negara lewat Zoom Meeting Room dan YouTube. Rabu, (12/08).

Acara Webinar menghadirkan Narasumber diantaranya Rektor Universitas Pertahanan Laksdya TNI Dr. A. Octavian, S.T., M.Sc., DESD, CIQnR, Kepala BAIS TNI Marsdya TNI Kisenda Wiranata Kusumah, MA dan Deputi II Bidang Pembangunan Manusia pada Kantor Staf Presiden Abetnego Panca Putra Tarigan. Webinar dimoderatori oleh Dr. Fauzia Gustarina Cempaka Timur, M.Si (Han).

Tema Webinar merupakan pengingat perjuangan 75 tahun Indonesia merdeka yang masih mendapatkan banyak tantangan. Dalam hal ini, koordinasi antara sipil dan militer, aparatur negara serta masyarakat dalam mewujudkan totalitas pelibatan masyarakat menjadi krusial. Di sisi lain, kebijakan negara pun berdampak sangat besar bagi pembangunan Indonesia serta hubungan Indonesia dengan masyarakat internasional. Hal ini menjadi krusial karena terimbas pandemi global yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Rektor Unhan memaparkan berbagai hal terkini tentang Unhan dan segala aktivitasnya. Seluruh civitas akademika Unhan bersama segenap elemen bangsa diharapkan mampu memberikan sumbangsih dalam upaya menuju Indonesia Emas. Kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilakukan pun diharapkan mampu mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.

Kepala BAIS TNI menyatakan bahwa BAIS TNI adalah bagian dari rencana strategis Indonesia untuk berperan aktif dalam menghadapi ancaman bagi bangsa dan negara, serta ikut serta melaksanakan ketertiban dunia. Oleh sebab itu, seluruh kegiatan yang berkenaan dengan intelijen baik di dalam dan di luar negeri ditujukan mendukung sepenuhnya pembangunan dan kebijakan Indonesia.

Deputi II Bidang Pembangunan Manusia Kantor Staf Presiden mengungkapkan upaya strategis KSP dalam menyelaraskan visi pembangunan manusia di Indonesia. Dengan dukungan staf milenial serta kolaborasi dan keterlibatan pakar dalam perumusan kebijakan, KSP berharap dapat tangkas menyikapi berbagai dinamika dan memberikan masukan bagi Presiden dan Wakil Presiden. Bahkan masyarakat pun diajak turut berpartisipasi aktif lewat kanal LAPOR! dan KSP Mendengar.

Dari ketiga pembicara sepakat perlunya timbal balik dan koordinasi berbagai instrumen negara dengan kebijakan beserta turunannya agar lebih pro pelibatan dan penguatan elemen-elemen masyarakat. Di saat kondisi yang rentan, penuh ketidakpastian, kompleks, dan ambigu, komunikasi dan koordinasi menjadi hal yang sangat esensial, tidak hanya agar penyampaian dan penyebarluasan  informasi menjadi efektif dan efisien, serta dapat menangkap hoaks, namun juga bagaimana semangat untuk meraih tujuan nasional bangsa Indonesia tetap bergelora.

Webinar ini dihadiri Y.M. Duta Besar RI untuk Negara Republik  Islam Afghanistan dan Y.M. Duta Besar RI di Abuja, Nigeria, serta 34 atase pertahanan di berbagai negara dan 1 Penmil di New York.

Authentifikasi: Kabag Humas Unhan.


Unhan Gelar Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar Unhan Laksamana Muda TNI (Purn) Prof. Dr. Ir. Supartono, M.M Sebagai Guru Besar Ilmu Pertahanan Bidang Teknologi Kemaritiman

by Administrator EDOM -

Bogor –  Rektor Unhan Laksamana Madya TNI Dr. Amarulla Octavian S.T., M.Sc., DESD., CIQnR., memimpin sidang Senat terbuka pengukuhan Guru Besar Universitas Pertahanan (Unhan)  Laksamana Muda TNI (Purn) Prof. Dr. Ir. Supartono, M.M sebagai Guru Besar Ilmu Pertahanan Bidang Teknologi Kemaritiman, yang di gelar di Kampus Bela Negara Unhan. Kamis, (13/08).

Dalam sambutannya, Rektor Unhan mengatakan bertambahnya guru besar bagi Unhan patut kita syukuri bersama, karena mutu dan eksistensi Universitas Pertahanan akan semakin unggul sesuai dengan visi Unhan menjadi World Class Defense University pada tahun 2024.

Hal ini sebagai jawaban atas tantangan perguruan tinggi dalam mencetak generasi bangsa berkualitas, sehingga memerlukan sosok yang profesional dalam bidangnya.

Dalam kesempatannya Laksamana Muda TNI (Purn) Prof. Dr. Ir. Supartono, M.M memaparkan orasi ilmiah tentang “Manajemen Pemberdayaan Pulau-Pulau Kecil Terluar Dalam Meningkatkan Pertahanan Dan Keamanan Negara”. Indonesia sebagai negara kepulauan diperoleh melalui Konvensi Hukum Laut Internasional (United Nation Convention On The Law of The Sea (UNCLOS) 1982, diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS 1982. Pemerintah Indonesia telah menjabarkan lima tujuan yang akan dicapai yaitu meningkatnya kesejahteraan masyarakat pesisir, meningkatnya peran sektor kelautan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, peningkatan gizi masyarakat melalui peningkatan daya dukung konsumsi ikan, dan peningkatan peran laut sebagai pemersatu bangsa.

Strategi Pemberdayaan meliputi peningkatkan kesejahteraan penduduk lokal setempat, pemberdayaannya perlu dilakukan secara terintegrasi antara pemberdayaan potensi ekonomi dengan pertahanan dan keamanan serta pemberdayaannya sebaiknya diserahkan sepenuhnya kepada TNI.

Pemerintah melakukan beberapa kebijakan merubah paradigma dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar, melakukan perlindungan secara khusus terhadap pulau-pulau kecil terluar, menempatkan penduduk pada pulau-pulau kecil terluar tidak berpenghuni melalui program transmigrasi, meningkatkan program pemberdayaan masyarakat, dan perlu diberikan jaminan biaya hidup dan insentif bagi penduduk. Untuk Potensi Pertahanan dan Keamanan, Pemerintah perlu melakukan beberapa kebijakan, antara lain peningkatan sarana dan prasarana pertahanan dan keamanan laut, peningkatan personel pengamanan di wilayah strategis di perbatasan laut, yang proporsional, peningkatan kerjasama pertahanan dan keamanan dengan negara tetangga.

Acara ini dihadiri oleh Para Guru Besar Unhan, Para Rektor Unhan sebelumnya, Pejabat Eselon I, II dan III Unhan, para tamu undangan  yang  hadir melalui vidcon antara lain Sekjen Kemhan beserta Pejabat Eselon I di lingkungan Kemhan, Pejabat di lingkungan Mabes TNI dan Angkatan antara lain Kadisdikal,  Sestama BNPT, Kepala BNPB, Sekjen Wantanas, Kepala PPSDK, Kepala STIN dan Komandan PMPP, Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Pimpinan Perguruan Tinggi Mitra Universitas Pertahanan antara lain UI, ITB, IPB, UGM, ITS, UNAIR, UB, Dekan UHT, UNPAD, UNJ serta Alumni AAL tahun 1984 dan Dubes RI di Kabul Mayjen TNI (Purn) Arief Rahmah.

Authentikasi  : Kabag Humas Unhan


Unhan Laksanakan Upacara Pembukaan Penataran Bela Negara untuk Dosen Prodi S1-Unhan

by Administrator EDOM -

Bogor – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pertahanan (Unhan) melaksanakan pembukaan Penataran Bela Negara Dosen Prodi S1-Unhan, selaku inspektur upacara (Irup) Rektor Universitas Pertahanan (Unhan) Laksdya TNI Dr. A. Octavian, S.T., M.Sc., DESD., CIQnR. bertempat di Gd. Aula Merah Putih Kampus Bela Negara Unhan Kawasan IPSC Sentul – Bogor Jawa Barat. Selasa, (18/8).

Dalam sambutan pembukaan Rektor Unhan menyampaikan bahwa bela negara sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 1945, Pasal 27, Ayat (3) bahwa “setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”. artinya setiap warga negara memiliki wewenang menggunakan hak selaku warga negara dalam membela negara. demikian juga setiap warga negara wajib membela negaranya jika negara dalam keadaan bahaya. maka setiap warga negara harus membela dan mempertahankan tegaknya NKRI. kata “wajib” sebagaimana terdapat dalam UUD 1945, mengandung makna bahwa negara dapat memaksa warga negara untuk ikut dalam pembelaan negara.

Hal tersebut dijabarkan dalam undang-undang nomor 23 tahun 2019 tentang pengelolaan sumber daya nasional untuk pertahanan negara, dicantumkan bahwa definisi bela negara adalah tekad, sikap, dan perilaku serta tindakan warga negara, baik secara perorangan maupun kolektif dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dan negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada negara kesatuan republik indonesia (NKRI) yang berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar negara republik indonesia tahun 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia dan negara dari berbagai ancaman.

Pembinaan bela negara diarahkan untuk menangkal faham-faham yang tidak sesuai dengan ideologi dan budaya Indonesia. Bela negara dilakukan secara berkesinambungan melalui pelatihan, penataran serta sosialisasi, sehingga dapat menjadi landasan yang kokoh terhadap ketersediaan sumber daya pertahanan. hakekat pembinaan kesadaran bela negara adalah upaya untuk membangun karakter bangsa Indonesia yang memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme serta ketahanan nasional demi terwujudnya NKRI yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945 serta terpeliharanya pelaksanaan pembangunan nasional guna mencapai tujuan nasional.

Melalui penataran ini para peserta diarahkan agar memiliki sikap dan perilaku terhadap lima nilai bela negara yaitu cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia pada pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara serta memiliki kemampuan awal bela negara. Bela negara bisa saja dilakukan melalui pengabdian profesi di berbagai bidang kehidupan masing-masing.

Bela negara bisa dijalankan melalui jalan diplomasi politik, memperkuat kemandirian ekonomi, maupun membangun ketahanan budaya termasuk pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pengabdian sebagai dosen yang profesional.

Momen penyelenggaraan penataran ini hendaknya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membangun karakter manusia Indonesia yang menyadari kewajiban setiap komponen bangsa untuk membela negaranya, memupuk kedisiplinan, menumbuhkan semangat kebangsaan, menumbuhkan jiwa korsa, membentuk kerja sama, dan membangun kebersamaan, serta membentuk dosen unhan yang pantang menyerah, rela berkorban untuk bangsa dan negaranya.

Acara ini dihadiri oleh pejabat Eselon I, II dan III serta para civitas akademika dilingkungan Unhan.

Authentifikasi: Kabag Humas Unhan.